Yupz,
Bner tuh, di indonesia emg ada ada badan cyber crime and bdan pngawas TI gtu.
Tpi hanya mengawasi dan menindak lanjuti. Tidak mencegah.
Gag kyk amerika, punya bdan khusus untuk perlindungan dr srangan cyber.
Jangan ngebandingin yg jauh2

. Ibaratnya klo USA dah mau garap sekuel Die Hard 5, Indonesia mungkin masih belajar bikin yang ke 3. Meski sebenernya banyak juga TI handal dari Indonesia, tapi ya itu kebanyakan di bajak negara tetangga. Alias bekerja untuk mereka.
Disaat kita untuk akses Internet aja musti bayar mahal demi koneksi yang speed mirip bajaj, disana dah banyak titik akses dengan koneksi secepat Air Force One

At least, menurut ayas, nie karena konsep perekrutannya yang berbeda. Di USA mereka emg merekrut tenaga2 handal wat dijadikan Agen Federal. Dan tenaga2 handal itu memang juga tertarik masuk ke federal, karena memang tuh pekerjaan sangat bergengsi dan menantang. Sedangkan di negara kita, mohon maaf nie ya, SDM dengan kualitas diatas rata2, berapa persen sih yang melirik untuk bekerja sebagai aparat

, dikarenakan di bbrp kalangan masyarakat pekerjaan sgb aparat masih dipandang negativ (mungkin karena biasa mendapat perlakuan seenaknya atau gmana, kurang jelas) . Jadi ya akhirnya mau g-mau, memaksakan SDM yg awalnya g-seberapa paham IT untuk bekerja di dunia IT.. So hasilnya ya seperti yg kita ketahui
